Parent Kids – Bulan Ramadan sering menjadi momen spesial bagi keluarga. Anak-anak biasanya ikut antusias melihat orang tua sahur, berbuka, hingga tarawih bersama. Tidak sedikit Ayah dan Bunda yang mulai bertanya, “kapan ya waktu yang tepat untuk melatih si kecil berpuasa?”
Walau anak belum wajib berpuasa, melatihnya sejak dini bisa membantu membentuk kebiasaan baik. Namun, tentu saja harus dilakukan dengan cara yang aman dan sesuai usia.
Secara Agama vs. Secara Medis
Secara agama, anak mulai memiliki kewajiban berpuasa saat memasuki masa puber (akil balik), umumnya di rentang usia 8–14 tahun tergantung jenis kelamin.
Namun dari sisi kesehatan, anak biasanya sudah bisa mulai berlatih puasa di usia sekitar 7 tahun ke atas, dengan catatan dilakukan secara bertahap dan tidak dipaksakan.
Penjelasan medis seperti yang dibahas di platform kesehatan Alodokter menyebutkan bahwa sebelum usia 7 tahun, risiko gangguan kesehatan akibat puasa masih cukup tinggi.
Mengapa Anak Lebih Rentan?
Tubuh anak berbeda dengan orang dewasa. Beberapa hal yang perlu dipahami orang tua antara lain cadangan gula tubuh (glikogen) anak masih lebih sedikit, metabolisme anak lebih cepat, dan pola tidur dan makan masih dalam tahap perkembangan
Jika dipaksakan, anak bisa mengalami lemas berlebihan, konsentrasi menurun, dehidrasi, hingga hipoglikemia (gula darah rendah), yang dalam kondisi berat dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang
Karena itu, puasa pada anak harus dipandang sebagai latihan adaptasi, bukan ajang pembuktian kekuatan.
Tips Aman Melatih Anak Berpuasa
Agar si kecil tetap sehat dan nyaman, Ayah dan Bunda bisa menerapkan beberapa langkah berikut:
1. Mulai Bertahap. Jangan langsung puasa penuh. Awali dengan setengah hari (sekitar 6–8 jam), lalu tingkatkan perlahan.
2. Perhatikan Menu Sahur. Pilih makanan tinggi serat dan protein agar rasa kenyang lebih lama. Hindari terlalu banyak makanan manis saat sahur.
3. Cukupi Cairan. Pastikan anak minum cukup air saat sahur dan berbuka untuk mencegah dehidrasi.
4. Hindari Aktivitas Berat. Kurangi olahraga intens atau aktivitas fisik berlebihan saat anak sedang belajar puasa.
5. Amati Kondisi Anak. Jika anak tampak sangat lemas, pusing, gemetar, atau sulit berkonsentrasi, jangan ragu untuk membatalkan puasanya.
Yang Terpenting: Jangan Memaksa
Di awal latihan, wajar jika anak lebih sensitif, mudah mengeluh lapar atau haus. Orang tua perlu sabar dan memberikan dukungan emosional.
Puasa untuk anak bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang proses belajar. Dengan pendekatan yang lembut dan bijak, Ramadan bisa menjadi pengalaman spiritual sekaligus momen bonding keluarga yang menyenangkan.
Jika Ayah dan Bunda masih ragu mengenai kondisi kesehatan anak, berkonsultasi dengan dokter adalah langkah yang bijak sebelum memulai latihan puasa.
