Parent Kids – Banyak orang tua sering bertanya-tanya, apakah anak akan mengingat momen kebersamaan dengan ayah dan ibunya saat masih kecil. Mulai dari bermain bersama, dipeluk sebelum tidur, hingga momen sederhana sehari-hari, semuanya terasa berharga. Tapi secara ilmiah, kapan sebenarnya anak mulai menyimpan kenangan tersebut?
Menurut Patricia J. Bauer, anak sebenarnya sudah mulai membentuk memori sejak usia sangat dini, bahkan sejak bayi. Namun, memori tersebut umumnya tidak bertahan hingga dewasa. “Bayi sudah mampu membentuk memori, tetapi sebagian besar kenangan awal ini tidak bertahan lama,” ujarnya dalam studi perkembangan memori anak.
Fenomena ini dikenal sebagai childhood amnesia, yaitu kondisi di mana seseorang tidak bisa mengingat pengalaman di masa awal kehidupannya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud, dan hingga kini masih menjadi dasar dalam memahami perkembangan memori manusia.
Meski begitu, seiring bertambahnya usia, kemampuan anak dalam menyimpan kenangan jangka panjang mulai berkembang. Pada usia sekitar 3 hingga 5 tahun, anak mulai mampu membentuk memori yang lebih stabil dan berpotensi diingat hingga dewasa. Di fase inilah momen kebersamaan dengan orang tua, termasuk ayah, mulai benar-benar “tersimpan” sebagai kenangan.
Namun, bukan berarti pengalaman sebelum usia tersebut tidak penting. Justru, fase awal kehidupan adalah fondasi yang sangat kuat dalam perkembangan emosional anak. Menurut John Bowlby, hubungan emosional yang terjalin antara anak dan orang tua sejak dini akan membentuk rasa aman dan kepercayaan diri di masa depan.
“Ikatan emosional awal antara anak dan orang tua akan memengaruhi hubungan sosial dan emosionalnya sepanjang hidup,” jelasnya dalam teori attachment.
Artinya, meskipun anak mungkin tidak akan mengingat secara detail momen saat masih bayi, perasaan yang mereka alami, seperti rasa aman, dicintai, dan diperhatikan, akan tertanam kuat dalam diri mereka. Hal ini juga berlaku pada peran ayah, yang sering kali dianggap sekadar pelengkap, padahal kehadirannya sangat penting dalam membentuk kepercayaan diri dan kestabilan emosi anak.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan apakah anak akan mengingat setiap momen yang terjadi, melainkan bagaimana momen tersebut membentuk perasaan dan karakter mereka. Kebersamaan sederhana yang dilakukan setiap hari mungkin tidak selalu diingat sebagai cerita, tetapi akan selalu terasa dalam cara anak memandang dunia dan dirinya sendiri.

