Parent Kids — Melindungi anak bukan hanya tentang bagaimana kita bereaksi saat masalah terjadi. Justru, perlindungan terbaik dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak sebuah keluarga baru dibentuk.
Inilah yang menjadi fokus kolaborasi antara Kementerian Agama dan Komnas Perlindungan Anak dalam memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia. Keduanya sepakat bahwa keluarga memegang peran paling penting dalam membentuk lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.
Salah satu langkah yang kini diperkuat adalah bimbingan pascanikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Program ini tidak lagi dipandang sekadar pelengkap, tetapi menjadi fondasi penting untuk membekali pasangan dengan pemahaman tentang pengasuhan dan perlindungan anak sejak dini.
Menurut Menteri Agama, Nasaruddin Umar, perlindungan anak tidak bisa dimulai saat masalah sudah muncul.
Orang tua perlu memahami sejak awal bagaimana menghadapi berbagai potensi risiko, baik di lingkungan sosial maupun di dunia digital yang semakin kompleks.
Di sinilah peran KUA berkembang. Tidak hanya sebagai tempat pencatatan pernikahan, tetapi juga sebagai ruang edukasi keluarga.

Harapannya, setiap pasangan yang menikah benar-benar siap menjalani peran sebagai orang tua yang memahami hak dan kebutuhan anak.
Pendekatan ini juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk implementasi kebijakan terkait keamanan digital anak. Hal ini menjadi penting, mengingat anak-anak saat ini tumbuh di era yang sangat terhubung dengan teknologi.
Di sisi lain, Komnas Perlindungan Anak juga terus berinovasi dalam sistem perlindungan. Dengan dukungan teknologi berbasis kecerdasan buatan, masyarakat kini dapat melaporkan kasus secara anonim.
Laporan tersebut langsung terhubung ke pusat data dan dapat ditindaklanjuti dengan cepat, termasuk dalam situasi darurat.
Tak hanya di lingkup keluarga, perhatian juga diarahkan ke lingkungan pendidikan. Upaya seperti edukasi di madrasah hingga rencana screening bagi pendamping di pesantren menjadi bagian dari langkah preventif untuk memastikan anak-anak terlindungi dari berbagai potensi kekerasan.
Bagi orang tua, pesan dari langkah ini sangat jelas: perlindungan anak adalah proses yang harus dibangun secara sadar dan konsisten. Bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang kesiapan, pemahaman, dan komunikasi dalam keluarga.
Memulai dari hal sederhana, seperti memahami kebutuhan emosional anak, membangun kepercayaan, hingga mendampingi mereka di dunia digital, dapat menjadi langkah awal yang kuat.
Karena pada akhirnya, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kesadaran akan memiliki bekal yang lebih baik untuk menghadapi dunia. Dan semua itu dimulai dari satu hal sederhana: keluarga yang siap.
