Cosmo Magazine – Banyak orang tua pernah berada di situasi yang sama dimana anak bertanya tanpa henti. Bagi sebagian anak, rasa ingin tahu justru sering dianggap sebagai gangguan. Pengalaman itulah yang pernah dialami Reni Cao semasa kecil, dan kini, puluhan tahun kemudian, menjadi awal lahirnya sebuah mainan edukasi berbasis AI bernama Dex.
Reni Cao adalah salah satu pendiri sekaligus CEO Dex, sebuah perangkat edukatif yang dirancang khusus untuk anak-anak. Bentuknya menyerupai kaca pembesar dengan kamera di satu sisi dan layar sentuh di sisi lainnya.
Cara kerjanya sederhana, anak cukup memotret benda di sekitarnya, lalu Dex akan mengenali objek tersebut dan menampilkan kata serta penjelasannya dalam delapan bahasa utama dan 34 dialek. Perangkat ini resmi diluncurkan ke pasar pada Agustus 2025 dan telah digunakan oleh ratusan keluarga.
Ide Dex lahir dari perjalanan hidup Cao sendiri. Saat remaja di China, ia pernah bertanya kepada guru fisikanya tentang apa yang ada di luar batas alam semesta. Alih-alih mendapatkan diskusi, pertanyaannya justru dianggap mengganggu.
Bertahun-tahun kemudian, saat teknologi AI seperti GPT-4 hadir, Cao mencoba mengajukan pertanyaan yang sama, dan mendapatkan jawaban mendalam yang mendorong refleksi filosofis. Momen itulah yang membuatnya berpikir, bagaimana jika anak-anak memiliki “teman” yang mau menanggapi rasa ingin tahu mereka dengan serius?
Sebagai ayah dari seorang anak perempuan berusia lima tahun yang tumbuh bilingual dalam bahasa Mandarin dan Inggris, Cao semakin menyadari betapa cepatnya anak menyerap bahasa. Ia tidak melihat anaknya kekurangan kemampuan, tetapi justru merasa potensi anak-anak sering kali belum benar-benar difasilitasi oleh sistem pendidikan yang ada.
Menurutnya, masa depan pembelajaran akan berkembang di luar ruang kelas tradisional, melalui pengalaman eksploratif yang mengikuti rasa ingin tahu alami anak.
Dex juga membawa dampak nyata bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Salah satu pendirinya, Charlie Zhang, terinspirasi dari pengalaman pribadi saat anaknya mengalami keterlambatan bicara.
Ketika anak tersebut menggunakan prototipe awal Dex, terjadi perubahan signifikan. Kata pertama yang diucapkan sang anak bukan kepada orang tuanya, melainkan kepada perangkat tersebut. Bagi tim Dex, ini menjadi bukti bahwa teknologi dapat menjadi jembatan aman bagi anak untuk berekspresi.
Lebih dari sekadar alat belajar bahasa, Dex dibangun dengan filosofi bahwa anak-anak belajar melalui permainan. Cao mengacu pada gagasan filsuf Ludwig Wittgenstein tentang “language games”, di mana bahasa dipahami sebagai aktivitas yang hidup dan menyenangkan.
Bagi anak-anak, berbicara dengan Dex bukan soal belajar formal, melainkan petualangan, seperti mengucapkan mantra dan melihat dunia merespons.
Keputusan Cao meninggalkan karier mapan di perusahaan teknologi besar untuk membangun startup mainan edukasi tentu bukan langkah mudah. Banyak investor meragukan idenya, menganggap pasar terlalu sempit dan pendekatannya terlalu tidak biasa.
Namun keyakinannya pada visi ini akhirnya membuahkan hasil. Dex berhasil mengamankan pendanaan sebesar USD 4,8 juta dari sejumlah investor dan terus berkembang.
Bagi Cao, Dex bukan hanya produk, melainkan pesan hidup untuk anaknya, dan untuk para orang tua. Bahwa rasa ingin tahu anak bukan sesuatu yang harus dibungkam, melainkan dipelihara.
Bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai dan kurikulum, tetapi tentang memberi ruang bagi anak untuk bertanya, mencoba, dan menemukan dunia dengan caranya sendiri.
Di era AI yang terus berkembang, Dex hadir sebagai pengingat bahwa teknologi terbaik bukan yang menggantikan peran orang tua, melainkan yang membantu anak merasa didengar, dipahami, dan didukung untuk terus bertanya.
