Parent Kids – Di era digital, tantangan terbesar orang tua bukan hanya soal prestasi akademik anak, tetapi juga bagaimana menjaga mereka tetap aktif bergerak.
Penggunaan gawai yang kian masif membuat anak-anak semakin terbiasa duduk lama, minim aktivitas fisik, dan berisiko mengalami gaya hidup sedenter sejak usia dini.
Kondisi ini bukan persoalan sepele. Kurangnya aktivitas fisik pada anak sekolah dasar dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang, mulai dari peningkatan risiko obesitas, gangguan motorik, hingga menurunnya kemampuan fokus dan daya tangkap belajar.
Karena itu, intervensi sejak dini menjadi kunci penting dalam membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut hadir melalui Festival SenengMinton Jawa Tengah 2025, sebuah kegiatan olahraga ramah anak hasil kolaborasi Aice Group,
Bakti Olahraga Djarum Foundation, dan Pengprov PBSI Jawa Tengah. Program ini menyasar siswa sekolah dasar di empat kota besar di Jawa Tengah, dengan pendekatan yang menggabungkan olahraga, edukasi, dan kegembiraan.
Bergerak Itu Penting untuk Tumbuh Kembang Anak
Aktivitas fisik bukan hanya soal membakar energi. Pada usia enam hingga sembilan tahun, anak berada dalam fase emas pertumbuhan otak dan sistem saraf.
Berbagai studi menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang rutin dapat merangsang pelepasan Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein penting yang membantu memperkuat koneksi antar sel saraf.
Artinya, anak yang aktif bergerak memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik dari sisi motorik, kognitif, maupun emosional. Mereka cenderung memiliki konsentrasi lebih baik, daya ingat yang lebih kuat, serta kemampuan sosial yang lebih matang.
Melalui Festival SenengMinton, anak-anak diajak bergerak lewat berbagai permainan fisik yang dirancang sesuai tahap perkembangan usia.
Aktivitas seperti shuttle run, zig zag run, hingga latihan dasar bulu tangkis dikemas layaknya permainan, sehingga anak merasa sedang bermain, bukan berlatih dengan tekanan kompetisi.
Olahraga yang Menyenangkan, Anak Lebih Tertarik
Senior Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong, menjelaskan bahwa pendekatan menyenangkan menjadi kunci agar anak mau lepas dari layar gawai dan kembali aktif.
“Ketika olahraga diperkenalkan sebagai aktivitas yang menyenangkan dan penuh kebersamaan, anak-anak akan lebih mudah mencintainya. Dari situ, kebiasaan hidup aktif bisa tumbuh secara alami,” ujarnya.
Pendekatan ini juga membantu orang tua, karena anak tidak merasa terpaksa. Justru, olahraga menjadi pengalaman positif yang mereka nantikan.
Sebagai bagian dari perayaan kebersamaan, Aice turut membagikan produk Mooochii Mango kepada ribuan peserta. Es krim dengan rasa mangga yang lembut ini menjadi pelengkap keceriaan setelah anak-anak aktif bergerak, sekaligus simbol penghargaan atas semangat mereka.

Peran Orang Tua dalam Membentuk Kebiasaan Sehat
Antusiasme tinggi terlihat tidak hanya dari anak-anak, tetapi juga dari para orang tua yang mendampingi. Kehadiran mereka menunjukkan adanya kebutuhan akan ruang aktivitas fisik yang aman, menyenangkan, dan edukatif bagi anak.
Bagi orang tua, kegiatan seperti Festival SenengMinton bisa menjadi contoh bahwa mengenalkan olahraga tidak harus selalu lewat latihan serius.
Justru, lewat permainan sederhana dan suasana menyenangkan, anak lebih mudah membangun kebiasaan sehat.
Wakil Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Yuni Kartika, menilai pengenalan olahraga sejak dini sangat penting untuk pembinaan jangka panjang.
“Kami ingin anak-anak mengenal bulu tangkis dengan cara yang menyenangkan terlebih dahulu. Dari situ, minat bisa tumbuh, dan ke depannya dapat berkembang lewat kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau klub,” jelasnya.
Investasi Kesehatan untuk Masa Depan Anak
Sepanjang rangkaian Festival SenengMinton Jawa Tengah 2025, tercatat lebih dari 2.200 siswa SD dari puluhan sekolah ikut ambil bagian, mulai dari Solo, Purwokerto, Semarang, hingga Magelang.
Angka ini menunjukkan bahwa ruang aktivitas fisik yang ramah anak memang sangat dibutuhkan.
Dengan memutus kebiasaan kurang gerak sejak kelas awal SD, anak-anak dibekali fondasi kuat untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat, aktif, dan tangguh.
