Parent Kids – Memasuki awal tahun, ruang digital kembali dipenuhi beragam konten viral yang menyita perhatian, mulai dari konflik di media sosial, adu pendapat ekstrem, hingga konten sensasional yang memancing emosi.
Di balik tingginya konsumsi konten tersebut, muncul kekhawatiran akan dampaknya terhadap kesehatan mental anak dan remaja yang kini semakin intens terpapar dunia digital sejak usia dini.
Aktivis sosial yang fokus pada isu perempuan dan anak, Ade Fitrie Kirana, mengingatkan bahwa awal tahun seharusnya menjadi momentum refleksi bersama untuk membenahi ekosistem informasi yang dikonsumsi anak-anak setiap hari.
“Konten yang penuh konflik, emosi berlebihan, dan sensasi mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa. Namun bagi anak-anak, itu bisa membentuk cara pandang yang keliru tentang kehidupan, relasi sosial, dan nilai diri,” ujar Ade dalam keterangannya, awal pekan ini.
Menurut Ade, anak-anak dan remaja saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang nyaris tanpa jeda.
Tanpa pendampingan yang memadai, mereka berisiko menyerap pola emosi dan perilaku yang tidak sehat, seperti budaya saling menjatuhkan, normalisasi konflik, hingga kebutuhan akan validasi berlebihan di ruang digital.
“Konten negatif tidak selalu berupa kekerasan atau bahasa kasar. Paparan drama yang terus-menerus, narasi konflik, dan opini ekstrem juga dapat menanamkan kecemasan, rasa tidak aman, serta kebingungan identitas pada anak,” jelasnya.
Ade menilai, konsumsi konten sensasional secara berlebihan dapat mengganggu fokus anak, memicu perbandingan sosial yang tidak realistis, serta melemahkan empati.
Anak-anak bisa tumbuh dengan anggapan bahwa perhatian, kontroversi, dan popularitas instan adalah tolok ukur keberhasilan dan kebahagiaan.
Karena itu, ia mengajak orang tua, pendidik, kreator konten, hingga platform digital untuk mengambil peran aktif di awal tahun ini.
Bukan dengan larangan yang kaku, melainkan melalui penguatan literasi digital, pendampingan emosional, serta penyediaan alternatif konten yang lebih sehat, inspiratif, dan mendidik.
“Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk membersihkan ruang digital kita. Anak-anak perlu melihat bahwa hiburan bisa tetap menarik tanpa menyakiti, dan informasi bisa memperkuat mental, bukan melemahkannya,” tegas Ade.
Ia juga menekankan pentingnya keteladanan orang dewasa dalam menyikapi konten digital.
Cara orang tua bereaksi terhadap konflik publik, perbedaan pendapat, dan isu viral akan menjadi cermin bagi anak-anak dalam memahami dunia dan mengelola emosi mereka sendiri.
Menutup pernyataannya, Ade berharap tahun baru dapat menjadi titik balik menuju ruang digital yang lebih ramah anak dan menyehatkan secara emosional.
“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan semua konten, tapi kita bisa membekali anak-anak dengan nilai, empati, dan kesadaran sejak dini,” pungkasnya.
