Unlock the Magic of Your kitchen with Our Cookbook!

Kecanduan Ponsel di Sekolah, Ini Dampaknya bagi Anak

Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar menggunakan ponsel secara lebih sehat tanpa kehilangan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam masa tumbuh kembangnya.

Hernowo Anggie
4 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!

Parent Kids – Saat anak berangkat ke sekolah, banyak orang tua merasa cukup tenang dengan keyakinan bahwa ponsel hanya tersimpan di tas. Kenyataannya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja justru menghabiskan cukup banyak waktu dengan ponsel mereka saat jam pelajaran berlangsung.

Sebuah riset yang dipublikasikan jurnal JAMA menemukan bahwa remaja usia 13 hingga 18 tahun menghabiskan rata-rata 70 menit setiap hari sekolah untuk menggunakan ponsel.

Waktu tersebut terjadi di jam yang seharusnya diisi dengan belajar dan berinteraksi di kelas.

Menurut dokter anak sekaligus peneliti dari University of California, San Francisco, Dr. Jason Nagata, angka ini hanya sebagian kecil dari total waktu layar remaja yang bisa mencapai lebih dari delapan jam per hari.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengandalkan pengakuan remaja, studi ini menggunakan aplikasi pelacak aktivitas ponsel sehingga datanya lebih objektif.

Hasilnya menunjukkan bahwa selama jam sekolah, ponsel paling sering digunakan untuk membuka media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat.

Selain itu, anak-anak juga menghabiskan waktu untuk bermain gim dan menonton video, terutama di YouTube. Penggunaan ponsel untuk keperluan akademik hampir tidak terlihat dalam data tersebut.

Meski banyak sekolah telah memberlakukan aturan pembatasan ponsel, kenyataannya anak-anak sering menemukan cara untuk mengakali larangan tersebut.

Studi ini memang hanya melibatkan pengguna Android, sehingga kebiasaan pengguna iPhone bisa berbeda. Namun temuan ini tetap memberi gambaran kuat bahwa ponsel telah menjadi bagian dari keseharian anak di sekolah.

Alih-alih menyalahkan anak, para ahli justru mengingatkan orang tua untuk melihat persoalan ini dengan lebih bijak. Ponsel dan media sosial dirancang untuk menarik perhatian dan memiliki sifat adiktif.

Anak-anak bukan tidak disiplin, tetapi mereka sedang berhadapan dengan teknologi yang sangat menggoda.

Peran orang tua menjadi kunci dalam membantu anak mengelola kebiasaan ini. Membuka percakapan dengan anak tentang penggunaan ponsel jauh lebih efektif dibandingkan melarang secara sepihak.

Anak cenderung lebih mau mematuhi aturan ketika mereka dilibatkan dalam penyusunannya dan memahami alasannya.

Beberapa orang tua memilih untuk meminta anak meninggalkan ponsel di rumah atau menyimpannya selama di sekolah.

Alternatif lain adalah mematikan ponsel atau mengaktifkan mode senyap agar notifikasi tidak terus memancing perhatian.

Menariknya, anggapan bahwa ponsel membuat anak lebih aman juga patut ditinjau ulang.

Dalam situasi darurat, anak justru perlu fokus pada lingkungan sekitar dan mengikuti arahan orang dewasa, bukan terpaku pada layar.

Psikolog klinis Melissa Greenberg menyarankan orang tua untuk menekankan apa yang bisa didapat anak saat menjauh sejenak dari ponsel, bukan apa yang mereka kehilangan.

Waktu tanpa layar sering kali membuat anak merasa lebih hadir, lebih fokus, dan lebih menikmati kebersamaan. Banyak anak akhirnya menyadari sendiri bahwa jeda dari ponsel memberi manfaat nyata.

Dari sisi akademik, penggunaan ponsel berlebihan terbukti mengganggu konsentrasi dan prestasi belajar. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak yang terlalu sering menggunakan media sosial cenderung mengalami penurunan kemampuan membaca, kosakata, dan daya ingat.

Selain itu, hubungan sosial juga terpengaruh. Keterampilan sosial berkembang paling baik melalui interaksi langsung, membaca ekspresi wajah, dan memahami bahasa tubuh, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar.

Yang tak kalah penting, anak belajar dari apa yang mereka lihat di rumah. Cara orang tua menggunakan ponsel menjadi contoh kuat bagi anak.

Ketika orang tua mampu membatasi diri, anak pun belajar bahwa teknologi seharusnya dikendalikan, bukan mengendalikan.

Mengelola penggunaan ponsel bukan tentang melawan teknologi, melainkan mengajarkan keseimbangan.

Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar menggunakan ponsel secara lebih sehat tanpa kehilangan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam masa tumbuh kembangnya.

Share This Article
Tidak ada komentar