Parent Kids – Orangtua zaman sekarang sering dibilang “lembut” dibanding generasi sebelumnya yang lebih tegas dan disiplin. Tapi apakah itu berarti anak zaman sekarang tumbuh tanpa struktur? Tidak juga. Sebenarnya, penelitian lintas generasi menunjukkan bahwa pola asuh berkembang secara dinamis dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan ini punya pengaruh yang nyata pada kesejahteraan anak.
Studi menunjukkan bahwa orangtua masa kini cenderung menggunakan pendekatan yang lebih hangat dan melibatkan reasoning atau penjelasan ketika mendidik anak, sementara praktik pengasuhan yang sangat keras atau penuh hukuman fisik semakin berkurang dari waktu ke waktu. Ini berarti bahwa meskipun ada anggapan generasi lama lebih “keras”, banyak orangtua modern memilih pendekatan yang mengutamakan keterlibatan emosional dan komunikasi yang jelas.
Perubahan semacam ini bukan sekadar tren—itu mencerminkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana hubungan anak-orangtua mempengaruhi perkembangan jangka panjang. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa gaya pengasuhan yang hangat dan empatik sering dikaitkan dengan konsep self-concept dan kesejahteraan psikososial yang lebih baik pada anak dan bahkan pada orang dewasa muda. Sejatinya, pola asuh bukan hanya soal disiplin, tetapi tentang menciptakan iklim emosional yang sehat di rumah.
Namun, generasi baru orangtua juga kadang bingung antara memberikan ruang bagi anak dan takut kehilangan kendali. Tanpa batasan yang jelas, pendekatan hangat bisa berubah menjadi permisif, di mana anak merasa tidak ada struktur yang menuntun mereka. Para ahli psikologi perkembangan mengingatkan pentingnya keseimbangan antara warmth (kehangatan) dan struktur agar anak merasa dicintai sekaligus belajar tanggung jawab.
Praktik pola asuh juga tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial dan budaya. Generasi yang tumbuh dengan cara mendidik tertentu sering membawa “warisan itu” ke generasi berikutnya, tetapi kini banyak orangtua berusaha menyeleksi apa yang relevan dan apa yang perlu diubah demi kesehatan mental anak mereka. Ini bukan menolak tradisi, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan emosi anak masa kini.
Dengan memahami bagaimana pola asuh berubah dari generasi ke generasi, orangtua bisa lebih sadar akan dampaknya pada anak. Alih-alih hanya meniru pola yang terdengar “aman” atau populer, orangtua bisa memilih praktik yang menyeimbangkan kehangatan cinta dengan batasan yang bijak—agar anak merasa dicintai, tetapi juga belajar tanggung jawab.
Perjalanan menjadi orangtua tidak pernah mudah, tapi memahami bagaimana pengalaman orangtua terdahulu berbeda dari sekarang bisa membantu membuat keputusan yang lebih bijak. Kuncinya adalah membawa hal baik dari masa lalu, sambil mengadaptasi hal yang lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak di era ini.
