Unlock the Magic of Your kitchen with Our Cookbook!

Benarkah Anak Sering Main HP Bisa Sebabkan Mata Merah? Ini Penjelasannya untuk Orang Tua

Pada akhirnya, kunci utama bukan pada melarang, melainkan mendampingi. Dengan kebiasaan yang lebih seimbang, anak tetap dapat menikmati teknologi tanpa harus mengorbankan kesehatan matanya.

Hernowo Anggie
4 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!

Cosmo Magazine – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, penggunaan gadget pada anak menjadi hal yang sulit dihindari.

Banyak orang tua akhirnya mengandalkan ponsel sebagai sarana hiburan sekaligus penenang bagi si kecil.

Namun di balik kemudahannya, muncul kekhawatiran baru, salah satunya adalah kondisi mata merah setelah anak terlalu lama menatap layar.

Mata merah pada anak umumnya terjadi karena pembuluh darah di permukaan mata melebar akibat iritasi atau peradangan. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai hal, seperti infeksi, alergi, hingga paparan debu.

Namun, penggunaan gadget dalam waktu lama juga memiliki peran yang tidak bisa diabaikan.

Dikutip dari Detik Health, dr. Arini Safira Nurul Akbar, SpM dari Jakarta Eye Center (JEC) Cinere menjelaskan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan mata kering, terutama pada anak-anak. Ia menyampaikan,

“Penggunaan gadget terlalu lama dapat menyebabkan mata kering, terutama pada anak-anak. Mata yang kering akan mudah terasa gatal dan mendorong anak untuk lebih sering mengucek matanya.”

Kebiasaan mengucek mata inilah yang kemudian memperparah kondisi. Gesekan yang terjadi secara berulang dapat memicu iritasi, bahkan menyebabkan perdarahan ringan pada pembuluh darah di mata, sehingga mata tampak merah.

Saat anak terlalu fokus pada layar, frekuensi berkedip cenderung menurun tanpa disadari. Padahal, berkedip berfungsi untuk menjaga kelembapan alami mata.

Ketika frekuensi ini berkurang, lapisan air mata menjadi tidak stabil dan mata pun mulai terasa kering, perih, dan lelah. Dalam kondisi tertentu, anak juga bisa mengeluhkan penglihatan yang terasa kabur.

Dampak penggunaan gadget yang berlebihan tidak berhenti pada mata merah saja. Dalam jangka panjang, kebiasaan melihat layar dalam jarak dekat dapat meningkatkan risiko rabun jauh atau miopia, terutama jika anak jarang melakukan aktivitas di luar ruangan.

Selain itu, anak juga berpotensi mengalami digital eye strain, yaitu kondisi ketika mata terasa lelah akibat penggunaan layar secara terus-menerus. Gejala ini biasanya disertai sakit kepala, mata kering, hingga kesulitan fokus.

Paparan layar yang terlalu dekat dengan waktu tidur juga dapat mengganggu kualitas istirahat anak. Cahaya dari layar ponsel bisa menghambat produksi hormon melatonin, sehingga anak menjadi lebih sulit untuk tidur nyenyak. Padahal, tidur yang cukup sangat penting bagi tumbuh kembangnya.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul. Jika anak mulai sering mengeluh sakit kepala, matanya tampak merah berulang kali, atau mengeluhkan penglihatan yang tidak nyaman, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata.

Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mendeteksi gangguan dan mencegah kondisi yang lebih serius.

Meski demikian, bukan berarti anak harus sepenuhnya dijauhkan dari gadget. Penggunaan teknologi tetap bisa menjadi bagian dari keseharian, selama dilakukan dengan bijak.

Orang tua dapat mulai dengan membatasi durasi penggunaan, memastikan anak mendapatkan waktu bermain di luar ruangan, serta membiasakan anak untuk beristirahat sejenak dari layar.

Pada akhirnya, kunci utama bukan pada melarang, melainkan mendampingi. Dengan kebiasaan yang lebih seimbang, anak tetap dapat menikmati teknologi tanpa harus mengorbankan kesehatan matanya.

Share This Article
Tidak ada komentar