Parentkids.Id – Data terbaru dari UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 188 juta anak berusia 5–19 tahun mengalami obesitas secara global pada 2025. Angka ini menjadi peringatan serius bagi orang tua, karena obesitas di usia anak bisa menimbulkan komplikasi kesehatan jangka panjang, mulai dari diabetes tipe 2, hipertensi, hingga masalah jantung.
Salah satu pemicu utama obesitas anak adalah jajanan manis dan berwarna mencolok, yang kini semakin mudah ditemui dan viral di media sosial. Anak-anak cenderung tertarik pada tampilan menarik dan rasa manis, sehingga produk-produk ini cepat habis di pasaran.
Meski pewarna dan perisa buatan yang digunakan umumnya berstatus food grade, risiko tetap ada jika dikonsumsi secara berlebihan atau jangka panjang, apalagi untuk anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang.
Selain berdampak pada fisik, kebiasaan mengonsumsi makanan manis juga membentuk preferensi rasa anak sejak dini. Anak yang terbiasa dengan makanan manis dan visual mencolok biasanya sulit menerima makanan sehat di kemudian hari.
Menurut dr. Yusuf dari IPB, pola makan seperti ini dapat meningkatkan risiko obesitas sejak kecil dan memengaruhi pola makan jangka panjang, yang berpotensi berlanjut menjadi penyakit tidak menular.
Orang tua berperan penting dalam mencegah obesitas anak. Pengawasan asupan gula, pemilihan jajanan sehat, dan edukasi gizi menjadi kunci utama. Selain itu, regulasi dan pengawasan pemerintah terhadap jajanan anak, terutama jajanan rumahan, musiman, dan daring juga perlu diperkuat.
Menciptakan lingkungan pangan sehat di rumah dan sekolah akan membantu anak-anak lebih mudah mengakses makanan bergizi dan tetap menarik, tanpa risiko kesehatan.
