Unlock the Magic of Your kitchen with Our Cookbook!

Kulit Anak Bukan untuk Skincare Rumit! Menyikapi Tren Perawatan Wajah di Usia Dini dengan Bijak

Perawatan sederhana, pola hidup sehat, dan edukasi tentang penggunaan produk yang tepat jauh lebih penting mengikuti rutinitas skincare yang berlebihan.

Hernowo Anggie
3 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!

Parent Kids – Fenomena anak dan remaja yang mulai rajin menggunakan skincare kini semakin sering terlihat, terutama karena pengaruh media sosial. Banyak anak usia sekolah dasar hingga remaja awal mencoba berbagai produk perawatan wajah yang sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Mulai dari serum, toner, hingga masker menjadi bagian dari rutinitas harian yang dianggap “keren” dan mengikuti tren.

Padahal, para ahli menegaskan bahwa kulit anak masih berada dalam fase perkembangan dan jauh lebih sensitif dibandingkan orang dewasa.

Dermatolog dari Yale Medicine, Kathleen Suozzi, menjelaskan bahwa “kulit anak lebih tipis, lebih lembut, dan lebih sensitif dibandingkan kulit orang dewasa.” sehingga tidak membutuhkan banyak produk tambahan.

Menurutnya, perawatan dasar seperti pembersih lembut, pelembap sederhana, dan tabir surya berbahan mineral sudah lebih dari cukup untuk menjaga kesehatan kulit anak.

Masalah muncul ketika anak-anak mulai menggunakan produk dengan kandungan aktif yang terlalu kuat. Banyak di antaranya tidak memahami bahwa bahan tertentu dalam skincare dewasa sebenarnya tidak cocok untuk kulit mereka yang masih sensitif. Hal ini dapat memicu iritasi hingga merusak lapisan pelindung kulit.

Dr. Suozzi menegaskan bahwa risiko tersebut tidak bisa dianggap sepele. Ia mengatakan, “Ada banyak bahan yang sering digunakan dalam produk untuk kulit dewasa yang bukan hanya tidak dibutuhkan oleh anak-anak, tetapi juga bisa berbahaya bagi mereka.”

Penggunaan bahan seperti retinol, asam eksfoliasi kuat, atau pewangi tambahan dapat mengganggu keseimbangan kulit anak jika dipakai tanpa kebutuhan medis.

Selain faktor kesehatan kulit, tren ini juga berkaitan dengan aspek psikologis remaja. Psikiater dari Yale Child Study Center, Yann Poncin, menjelaskan bahwa masa remaja adalah fase pencarian jati diri.

Ia menyebut, “Masa remaja sangat erat kaitannya dengan proses membentuk identitas diri.” yang membuat anak mudah terpengaruh oleh tren visual dari media sosial, termasuk rutinitas skincare.

Karena itu, peran orangtua menjadi sangat penting dalam memberikan pemahaman yang seimbang. Bukan melarang secara keras, tetapi mengarahkan anak untuk memahami bahwa kulit mereka sebenarnya sudah sehat secara alami. Perawatan sederhana, pola hidup sehat, dan edukasi tentang penggunaan produk yang tepat jauh lebih penting mengikuti rutinitas skincare yang berlebihan.

Share This Article
Tidak ada komentar