Parent Kids – Menjelang peringatan pada 22 Mei, para orang tua perlu semakin memahami bahaya preeklamsia, komplikasi kehamilan yang masih menjadi ancaman serius bagi ibu dan calon bayi.
Bagi banyak keluarga, masa kehamilan merupakan momen penuh harapan untuk menyambut kehadiran adik baru di rumah. Namun di balik kebahagiaan tersebut, ada risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Salah satunya adalah preeklamsia, kondisi yang sering datang tanpa tanda jelas tetapi dapat membahayakan keselamatan ibu dan janin.
Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan adanya protein dalam urine setelah usia kehamilan 20 minggu. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan serius seperti kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin, hingga eklamsia yang berisiko mengancam nyawa ibu dan bayi.
Di Indonesia, hipertensi dalam kehamilan termasuk preeklamsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan komplikasi kehamilan masih menyumbang ribuan kasus kematian ibu setiap tahunnya.
Yang membuat preeklamsia berbahaya adalah gejalanya kerap dianggap sebagai keluhan kehamilan biasa. Padahal, kondisi ini perlu segera diperiksa apabila ibu hamil mengalami sakit kepala berat, pandangan kabur, pembengkakan pada wajah dan tangan, nyeri ulu hati, sesak napas, atau kenaikan berat badan secara tiba-tiba.
Dokter menyarankan ibu hamil untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan agar kondisi ini dapat terdeteksi lebih awal. Pemeriksaan tekanan darah dan urine secara berkala menjadi langkah penting untuk memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin.
Risiko preeklamsia diketahui lebih tinggi pada ibu hamil usia di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun, kehamilan pertama, obesitas, memiliki riwayat hipertensi atau diabetes, serta kehamilan kembar.
Meski belum dapat dicegah sepenuhnya, risiko preeklamsia dapat ditekan melalui pola hidup sehat, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, cukup istirahat, serta rutin berkonsultasi dengan tenaga medis selama masa kehamilan.
Jika ibu hamil didiagnosis mengalami preeklamsia, dokter biasanya akan melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi ibu dan bayi. Penanganan bisa berupa pemberian obat untuk mengontrol tekanan darah hingga perawatan di rumah sakit pada kondisi tertentu.
Melalui peringatan Hari Preeklamsia Sedunia, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa menjaga kesehatan ibu hamil berarti juga menjaga keselamatan calon buah hati yang sedang dinantikan kehadirannya di rumah.
