Unlock the Magic of Your kitchen with Our Cookbook!

Merangkai Peran: Ketika Perempuan Menjaga Karier dan Keluarga Tetap Hangat

Dari keseimbangan itulah, kebahagiaan seorang perempuan dapat tumbuh, di ruang kerja maupun di tengah keluarga.

Feby Ferdian
4 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!

Parent Kids – Bagi banyak perempuan, menjadi ibu bekerja berarti hidup dalam dua irama yang berjalan bersamaan. Pagi hingga sore dipenuhi tanggung jawab profesional, agenda rapat, dan target yang menuntut fokus.

Namun begitu malam tiba, peran lain menanti, sebagai ibu, istri, dan pusat kehangatan keluarga.

Tak jarang waktu terasa terlalu singkat, sementara tenaga terkuras sebelum hari benar-benar berakhir. Meski begitu, banyak ibu bekerja yang tetap berupaya menjaga keseimbangan, agar kesuksesan di kantor tidak mengorbankan kedekatan dengan keluarga.

Pengalaman serupa dirasakan Diajeng Larasati (30), seorang karyawati di perusahaan farmasi, yang ditemui oleh Parentkids.Id pada Senin, 22 Desember 2025.

Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, ia membagikan kisah tentang bagaimana menjalani peran ganda dengan cara yang sederhana, namun penuh makna.

Menutup Hari Kerja, Membuka Waktu Keluarga

Bagi Diajeng, pulang tepat waktu bukan sekadar soal jam, melainkan soal kesiapan hati untuk kembali ke rumah.

“Sebisa mungkin saya menyelesaikan semua pekerjaan di kantor, supaya waktu di rumah benar-benar milik keluarga,” ungkap ibu satu anak yang kini tengah mengandung empat bulan tersebut.

Menurutnya, momen setelah pulang kerja adalah kesempatan berharga untuk hadir sepenuhnya, mendengarkan cerita anak, berbincang santai dengan pasangan, atau menikmati makan malam tanpa gangguan pekerjaan.

Rumah Bukan Perpanjangan Kantor

Ia menyadari, banyak ibu bekerja yang tanpa sadar membawa beban pekerjaan hingga ke rumah. Padahal, kebiasaan ini justru membuat pikiran sulit beristirahat.

Bagi Diajeng, rumah seharusnya menjadi ruang pemulihan, tempat melepas penat, bukan lokasi untuk menyelesaikan urusan kantor yang belum tuntas.

Dengan membatasi pekerjaan hanya di jam kerja, ia merasa lebih mampu menjaga kesehatan mental dan emosional, sekaligus membangun suasana rumah yang lebih hangat.

Akhir Pekan, Prioritas untuk Kebersamaan

Hari libur menjadi waktu yang paling dinanti, terutama oleh anak-anak. Di momen inilah Diajeng memilih untuk benar-benar melambat.

“Saya senang melakukan hal-hal sederhana bersama keluarga, seperti memasak, menonton film, atau sekadar berjalan santai,” ujar istri dari Rizki Kurniawan tersebut.

Baginya, kebahagiaan keluarga sering kali lahir dari kegiatan kecil yang dilakukan bersama, bukan dari agenda besar yang rumit.

Hadir Singkat, Tapi Bermakna

Perempuan yang akrab disapa Ajeng ini percaya bahwa kualitas kebersamaan jauh lebih penting daripada lamanya waktu.

“Walaupun hanya sebentar, saya selalu berusaha benar-benar hadir, mendengarkan, tertawa, dan memberi perhatian,” katanya.

Rutinitas kecil sepulang kerja itu menjadi jembatan emosional yang menjaga kedekatan dengan anak-anak, meski aktivitas sehari-hari cukup padat.

Rehat Sejenak, Mengisi Ulang Bahagia

Sesekali, Ajeng juga memberi ruang untuk liburan keluarga. Tidak harus jauh atau mewah, yang terpenting adalah kebersamaan.

“Staycation atau liburan singkat sudah cukup untuk menyegarkan pikiran,” tuturnya.

Waktu rehat ini membantunya kembali berenergi, baik sebagai seorang ibu maupun sebagai profesional di dunia kerja.

Menjadi ibu bekerja memang bukan peran yang mudah. Namun dengan pengelolaan waktu yang tepat dan kesadaran untuk hadir sepenuh hati di rumah, karier dan keluarga tidak perlu saling mengalahkan.

Dari keseimbangan itulah, kebahagiaan seorang perempuan dapat tumbuh, di ruang kerja maupun di tengah keluarga.

Share This Article
Tidak ada komentar