Parent Kids – Dunia parenting terus berubah. Pola asuh yang dulu cenderung otoriter kini bergeser menjadi lebih komunikatif dan penuh empati. Anak-anak didorong untuk mengekspresikan perasaan, didengar pendapatnya, dan dihargai sebagai individu. Namun, muncul pertanyaan besar, apakah cara ini benar-benar menyiapkan anak menghadapi dunia nyata?
Dalam sebuah diskusi bersama para perempuan dari berbagai latar belakang, pendidik, konsultan pendidikan luar negeri, hingga pengusaha, muncul satu benang merah, bahwa orangtua masa kini cenderung terlalu protektif.
Menurut seorang konsultan pendidikan, budaya safetyism, penggunaan smartphone sejak dini, dan campur tangan orangtua yang berlebihan justru memicu meningkatnya kecemasan, depresi, hingga rendahnya daya juang anak-anak yang lahir di akhir 1990-an ke atas. Anak jarang diberi kesempatan gagal dalam skala kecil, sehingga saat menghadapi masalah nyata, mereka mudah panik dan merasa “dunia runtuh”.
Hal ini diperkuat oleh guru senior yang menyoroti lemahnya batasan dalam pengasuhan. Banyak orangtua sulit berkata “tidak” karena lelah bekerja atau tak ingin konflik. Akibatnya, aturan jadi tidak konsisten, no hari ini bisa berubah jadi yes besok. Jika dibiarkan, pola ini berisiko membentuk pribadi yang merasa selalu berhak dan sulit menerima penolakan.
Padahal, menurut para ahli, delapan tahun pertama kehidupan adalah masa krusial pembentukan kebiasaan dan nilai, seperti kejujuran, sopan santun, tanggung jawab, dan disiplin. Anak bukan “teman sebaya”, melainkan individu yang tetap membutuhkan arahan.
Tekanan juga datang dari luar rumah. Media sosial disebut sebagai “orangtua ketiga” yang kuat pengaruhnya. Anak-anak dihadapkan pada perbandingan tanpa henti, prestasi, penampilan, popularitas, yang memicu tekanan untuk selalu tampil sempurna. Ditambah lagi, budaya serba instan membuat kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) semakin langka.
Meski begitu, parenting masa kini juga membawa banyak sisi positif. Komunikasi yang lebih terbuka membantu anak mengenali dan mengelola emosi. Pilihan karier makin luas, mulai dari AI, UI/UX, hingga industri kreatif, dan stereotip gender perlahan memudar. Orangtua pun lebih terbuka pada jalur hidup yang beragam, termasuk gap year dan eksplorasi minat.
Kesimpulannya, kunci parenting tetap sama, hanya tantangannya yang berubah, cinta tanpa syarat, komunikasi terbuka, namun tetap disertai batasan yang jelas. Anak perlu dilindungi, tapi juga diberi ruang untuk jatuh, bangkit, dan belajar, karena di situlah resiliensi tumbuh.
